PENGORGANISASIAN MASYARAKAT
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Secara Umum Pengorganisasian
Masyarakat didefinisikan sebagai: "Proses membangun kekuatan dengan
melibatkan konstituen sebanyak mungkin melalui proses menemukenali ancaman yang
ada secara bersama-sama, menemukenali penyelesaian-penyelesaian yang diinginkan
terhadap ancaman-ancaman yang ada; menemu-kenali orang dan struktur, birokrasi,
perangkat yang ada agar proses penyelesaian yang dipilih menjadi mungkin
dilakukan, menyusun sasaran yang harus dicapai; dan membangun sebuah institusi
yang secara demokratis diawasi oleh seluruh konstituen yang ada" (Dave
Beckwith & Cristina Lopez, 1997).
Jadi pengorganisasian masyarakat
bukan sekedar memobilisasi massa untuk suatu kepentingan, tetapi suatu proses
pergaulan/pertemanan/persahabatan dengan suatu komunitas atau masyarakat yang
lebih menitik-beratkan pada inisiatif masa kritis untuk mengambil
tindakan-tindakan secara sadar dalam mencapai perubahan yang lebih baik.
Pengorganisasian Masyarakat
(Community Organizing) sesungguhnya adalah sebuah pemikiran dan pola
kerja yang telah ada dan berlangsung sejak berabad-abad yang lampau,
yaitu serangkaian upaya membangun masyarakat untuk mencapai taraf
kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera dan adil dari sebelumnya
dengan mengacu pada harkat dan martabat kemanusiaan seutuhnya.
Sebagai suatu rumusan konsep pemikiran dan pola kerja paling tidak sudah
dikenal pada masa kehidupan Lao Tse di dataran Cina, pada abad
7 sebelum Masehi.
Pada abad keduapuluh konsep dari
pemikiran dan pola kerja Pengorganisasian Masyarakat tersebut
menjadi populer kembali, sebagai reaksi terhadap gagasan
danpraktek-praktek pembangunan atau “modernisasi” yang ternyata berujung
pada terinjak-injaknya harkat kemanusiaan dan pengurasan secara dahsyat berbagai
sumber daya alam untuk kepentingan sekelompok kecil manusia di bumi ini.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
PENGORGANISASIAN MASYARAKAT
Secara Umum Pengorganisasian Masyarakat didefinisikan
sebagai: "Proses membangun kekuatan dengan melibatkan konstituen sebanyak
mungkin melalui proses menemukenali ancaman yang ada secara bersama-sama,
menemukenali penyelesaian-penyelesaian yang diinginkan terhadap ancaman-ancaman
yang ada; menemu-kenali orang dan struktur, birokrasi, perangkat yang ada agar
proses penyelesaian yang dipilih menjadi mungkin dilakukan, menyusun sasaran
yang harus dicapai; dan membangun sebuah institusi yang secara demokratis
diawasi oleh seluruh konstituen yang ada" (Dave Beckwith & Cristina
Lopez, 1997).
Sedangkan menurut “Ross Murray”
Pengorganisasian Masyarakat adalah : Suatu proses dimana masyarakat dapat
mengidentifikasi kebutuhan – kebutuhan dan menentukan prioritas dari kebutuhan
– kebutuhan tersebut, dan mengembangkan keyakinan untuk berusaha memenuhi
kebutuhan – kebutuhan sesuai dengan skala prioritas berdasarkan atas sumber –
sumber yang ada dalam masyarakat sendiri maupun yang berasal dari luar dengan
usaha secara gotong royong.
B.
ASPEK
– ASPEK PENGORGANISASIAN MASYARAKAT
Pada
pengertian tersebut terdapat 3 ASPEK PENTING yang terkandung di dalamnya, yaitu
:
1. PROSES
Merupakan
proses yang terjadi secara sadar, tetapi mungkin juga tidak disadari. Jika
proses disadari, berarti masyarakat menyadari akan adanya kebutuhan. Dalam prosesnya
ditemukan unsur – unsur kesukarelaan. Kesukarelaan timbul karena adanya
keinginan untuk memenuhi kebutuhan sehingga mengambil inisiatif atau prakarsa
untuk mengatasinya. Kesukarelaan juga terjadi karena dorongan untuk memenuhi
kebutuhan – kebutuhan kelompok atau masyarakat. Kesadaran terhadap kebutuhan
dan masalah yang dihadapi biasanya ditemukan pada segelintir orang saja yang
kemudian melakukan upaya menyadarkan masyarakat untuk mengatasinya. Selanjutnya
mengintruksikan kepada masyarakat untuk bersama – sama mengatasinya.
2. MASYARAKAT
Masyarakat biasanya
diartikan sebagai :
a. Kelompok
besar yang mempunyai Batas – batas Geografis : Desa, Kecamatan, Kabupaten dsb.
b. Suatu
kelompok dari mereka yang mempunyai kebutuhan bersama dari kelompok yang lebih
besar
c. Kelompok
kecil yang menyadari suatu masalah harus dapat menyadarkan kelompok yang lebih
besar
d. Kelompok
yang secara bersama – sama mencoba mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhannya.
3. BERFUNGSINYA
MASYARAKAT
Untuk dapat
memfungsikan masyarakat, maka harus dilakukan langkah – langkah sebagai berikut
:
a. Menarik
orang – orang yang mempunyai inisiatif dan dapat bekerja, untuk membentuk
kepanitiaan yang akan menangani masalah – masalah yang berhubungan dengan
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
b. Membuat
rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh keseluruhan masyarakat
c. Melakukan
upaya penyebaran rencana ( kampanye ) untuk mensukseskan rencana tersebut.
C.
ASPEK
PERENCANAAN
Public health problem
Perencanaan dalam pengorganisasian masyarakat, berdasarkan aspek
perencanaannya, terdapat 2 (dua) bentuk, langsung (direct) dan tidak langsung
(inderect).
Perencanaa yang
bersifat langsung mengandung langkah-langkah Identifikasi masalah/kebutuhan,
Perumusan masalah, serta menggunakan nilai-nilai sosial yang sama dalam
mengekspresikan hal-hal tersebut di atas.
Sedangkan bentuk yang
tidak langsung (indirect), mempersyaratkan adanya orang-orang yang benar-benar
yakin akan adanya kebutuhan/masalah dalam masyarakat yang jika diambil
tindakan-tindakan untuk mengatasinya maka akan timbu manfaat bagi masyarakat.
Hal ini dapat berupa badan perencanaan yang mempunyai dua fungsi, yaitu untuk
menampung apa yang direncanakan secara tidak formal oleh para petugas, serta
mempunyai efek samping terhadap mereka yang belum termotivasi dalam kegiatan
ini.
D.
PERANAN
PETUGAS
Peranan petugas dalam
pengembangan dan pengorganisasian masyarakat terbagi dalam beberapa jenis,
antara lain sebagai : pembimbing, enabler dan ahli. (Murray G-Ross).
1.
Sebagai pembimbing (guide) maka petugas
berperan untuk membantu masyarakat mencari jalan untuk mencapai tujuan yang
sudah ditentukan oleh masyarakat sendiri dengan cara yang efektif. Tetapi
pilihan cara dan penentuan tujuan dilakukan sendiri oleh masyarakat dan bukan
oleh petugas.
2.
Sebagai enabler, maka petugas berperan untuk
memunculkan dan mengarahkan keresahan yang ada dalam masyarakat untuk
diperbaiki.
3.
Sebagai ahli (expert), menjadi tugasnya untuk
memberikan keterangan dalam bidang-bidang yang dikuasainya.
Untuk menentukan seseorang sebagai
“Community Worker” atau sebagai “Promotor Kesehatan Desa (Promokesa)”, harus
memiliki syarat – syarat sebagai berikut :
a. Mampu
menggunakan berbagai pendekatan kepada masyarakat sehingga dapat menarik
kepercayaan masyarakat
b. Mampu
mengajak masyarakat untuk bekerjasama serta membangun rasa saling percaya antara
petugas dan masyarakat
c. Mengetahui
dengan baik sumber daya dan sumber alam yang ada di masyarakat, yang dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah
d. Mampu
berkomunikasi secara baik dengan masyarakat, menggunakan metode dan teknik
komunikasi yang disesuaikan dengan keadaan masyarakat sehingga informasi dapat
dimengerti dan dilaksanakan oleh masyarakat
e. Mempunyai
kemampuan profesional dalam berhubungan dengan masyarakat, baik formal leader
maupun informal leader
f.
Mempunyai pengetahuan
tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat dan keadaan lingkungannya
g. Mempunyai
pengetahuan dan keterampilan tentang kesehatan yang dapat diajarkan kepada
masyarakat
h. Mengetahui
dinas – dinas terkait dan tenaga ahli yang ada di wilayah tersebut untuk
dimintakan bantuan keikutsertaannya dalam memecahkan masalah masyarakat dan
memenuhi kebutuhan mereka.
E.
PENDEKATAN
DALAM PENGORGANISASIAN MASYARAKAT
Pada
prinsipnya Pengorganisasian Masyarakat mempunyai orientasi kepada kegiatan
tertentu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu menurut “Ross
Murray” dalam Pengorganisasian Masyarakat, terdapat 3 Pendekatan yang
digunakan, yaitu :
1. Spesific
Content Objective Approach
Adalah
pendekatan baik perseorangan ( Promokesa ), Lembaga swadaya atau Badan tertentu
yang merasakan adanya masalah kesehatan dan kebutuhan dari masyarakat akan
pelayanan kesehatan, mengajukan suatu proposal / program kepada instansi yang
berwenang untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut.
Contoh : Program penanggulangan sampah.
2. General
Content Objective Approach
Adalah
pendekatan yang mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang kesehatan dalam
suatu wadah tertentu.
Misalnya
program Posyandu, yang melaksanakan 5 – 7 upaya kesehatan yang dijalankan
sekaligus.
3. Process
Objective Approach
Adalah pendekatan yang
lebih menekankan kepada proses yang dilaksanakan oleh masyarakat sebagai
pengambil prakarsa, mulai dari mengidentifikasi masalah, analisa, menyusun
perencanaan penaggulangan masalah, pelaksanaan kegiatan, sampai dengan
penilaian dan pengembangan kegiatan ; dimana masyarakat sendiri yang
mengembangkan kemampuannya sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki.
Yang
dipentingkan dalam pendekatan ini adalah Partisipasi masyarakat / Peran Serta
Masyarakat dalam Pengembangan Kegiatan.
F.
LANGKAH
– LANGKAH PENGORGANISASIAN MASYARAKAT
Menurut
“Adi Sasongko ( 1978 )”, langkah – langkah yang harus ditempuh dalam Pengorganisasian
Masyarakat adalah :
1. Persiapan
sosial :
a. Pengenalan
Masyarakat
b. Pengenalan
Masalah
c. Penyadaran
Masyarakat
2. Pelaksanaan
3. Evaluasi
4. Perluasan
1. PERSIAPAN
SOSIAL
Tujuan
persiapan sosial adalah mengajak pasrtisipasi atau peran serta masyarakat sejak
awal kegiatan, selanjutnya sampai dengan perencanaan program, pelaksanaan
hingga pengembangan program kesehatan masyarakat.
Kegiatan – kegiatan dalam persiapan sosial ini lebih ditekankan kepada persiapan – persiapan yang harus dilakukan baik aspek teknis, administratif dan program – program kesehatan yang akan dilakukan.
Kegiatan – kegiatan dalam persiapan sosial ini lebih ditekankan kepada persiapan – persiapan yang harus dilakukan baik aspek teknis, administratif dan program – program kesehatan yang akan dilakukan.
a. Tahap
Pengenalan Masyarakat
Dalam
tahap awal ini kita harus datang ke tengah – tengah masyarakat dengan hati yang
terbuka dan kemauan untuk mengenal masyarakat sebagaimana adanya, tanpa disertai
prasangka sambil menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan yang akan
dilaksanakan. Tahap ini dapat dilakukan baik melalui Jalur Formal yaitu dengan
melalui sistem pemerintahan setempat seperti Pamong Desa atau Camat, dan dapat
juga dilakukan melalui Jalur Informal misalnya wawancara dengan To-Ma, seperti
Guru, Pemuka Agama, tokoh Pemuda,dll.
b. Tahap
Pengenalan Masalah
Dalam
tahap ini dituntut suatu kemampuan untuk dapat mengenal masalah – masalah yang
memang benar – benar menjadi kebutuhan masyarakat. Untuk dapat mengenal masalah
kesehatan masyarakat secara menyeluruh tersebut, diperlukan interaksi dan
interelasi dengan masyarakat setempat secara mendalam. Dalam tahap ini mungkin
akan banyak ditemukan masalah – masalah kesehatan masyarakat, oleh karena itu
harus disusun skala prioritas penanggulangan masalah. Beberapa pertimbangan
yang dapat digunakan untuk menyusun prioritas masalah adalah :
1) Beratnya
Masalah
Yang
perlu dipertimbangkan di dini adalah Seberapa jauh masalah tersebut menimbulkan
gangguan terhadap masyarakat.
2) Mudahnya
Mengatasi
Yang
diperhatikan adalah kemudahannya dalam menanggulangi masalah tersebut.
3) Pentingnya
Masalah Bagi Masyarakat
Yang
paling berperan di sini adalah Subyektifitas masyarakat sendiri dan sangat
dipengaruhi oleh kultur – budaya setempat.
4) Banyaknya
Masyarakat yang Merasakan Masalah
Misalnya
perbaikan Gizi, akan lebih mudah dilaksanakan di wilayah yang banyak balitanya.
5) Tahap
Penyadaran Masyarakat
Tujuan tahap ini adalah
menyadarkan masyarakat agar mereka :
a) Menyadari
masalah – masalah kesehatan yang mereka hadapi
b) Secara
sadar berpartisipasi dalam kegiatan penanggulangan masalah kesehatan yang
dihadapi
c) Tahu
cara memenuhi kebutuhan akan upaya pelayanan kesehatan sesuai dengan potensi
dan sumber daya yang ada.
Agar masyarakat dapat menyadari masalah
dan kebutuhan mereka akan pelayanan kesehatan, diperlukan suatu mekanisme yang
terencana dan terorganisasi dengan baik, untuk itu beberapa kegiatan yang dapat
dilakukan dalam rangka Menyadarkan Masyarakat adalah :
a) Lokakarya Mini Kesehatan
b) Musyawarah
Masyarakat Desa ( MMD )
c) Rembuk
Desa
2. PELAKSANAAN
Setelah
rencana penanggulangan masalah disusun dalam Lokakarya Mini atau MMD, maka
langkah selanjutnya adalah Melaksanakan kegiatan tersebut sesuai dengan
perencanaan yang telah disusun. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam
pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan masyarakat adalah :
a. Pilihlah
kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat
b. Libatkan
peran serta masyarakat secara aktif dalam upaya penaggulangan masalah
c. Kegiatan disesuaikan dengan kemampuan, waktu,
dan sumber daya yang tersedia di masyarakat
d. Tumbuhkan
rasa percaya diri masyarakat bahwa mereka mempunyai kemampuan dalam
penanggulangan masalah.
3. EVALUASI
Penilaian
dapat dilakukan setelah pelaksanaan dijalankan dalam jangka waktu tertentu.
Dalam melakukan penilaian ada 2 cara, yaitu :
a. Penilaian
Selama Kegiatan Berlangsung
-
Disebut juga Penilaian
Formatif = Monitoring
-
Dilakukan untuk melihat
apakah pelaksanaan kegiatan yang dijalankan sesuai dengan perencanaan
penanggulangan masalah yang telah disusun.
-
Sehingga dapat
diketahui perkembangan hasil yang akan dicapai.
b. Penilaian
Setelah Program Selesai Dilaksanakan
-
Disebut juga Penilaian
Sumatif = Penilaian Akhir Program
-
Dilakukan setelah
melalui jangka waktu tertentu dari kegiatan yang dilakukan.
-
Dapat diketahui apakah
tujuan / target dalam pelayanan kesehatan telah tercapai atau belum.
4. PERLUASAN
Perluasan
merupakan pengembangan dari kegiatan yang dilakukan, dan dapat dilakukan dengan
2 cara yaitu :
a. Perluasan
Kuantutatif
Yaitu
perluasan dengan menambah jumlah kegiatan yang dilakukan, baik pada wilayah
setempat maupun wilayah lainnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
b. Perluasan
Kualitatif
Yaitu
perluasan dengan dengan meningkatkan mutu atau kualitas kegiatan yang telah
dilaksanakan sehingga dapat meningkatkan kepuasan dari masyarakat yang
dilayani.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Pengorganisasian
Masyarakat didefinisikan sebagai: "Proses membangun kekuatan dengan
melibatkan konstituen sebanyak mungkin melalui proses menemukenali ancaman yang
ada secara bersama-sama, menemukenali penyelesaian-penyelesaian yang diinginkan
terhadap ancaman-ancaman yang ada; menemu-kenali orang dan struktur, birokrasi,
perangkat yang ada agar proses penyelesaian yang dipilih menjadi mungkin
dilakukan, menyusun sasaran yang harus dicapai; dan membangun sebuah institusi
yang secara demokratis diawasi oleh seluruh konstituen yang ada" (Dave
Beckwith & Cristina Lopez, 1997).
2. Menurut
“Ross Murray” Pengorganisasian Masyarakat adalah : Suatu proses dimana
masyarakat dapat mengidentifikasi kebutuhan – kebutuhan dan menentukan
prioritas dari kebutuhan – kebutuhan tersebut, dan mengembangkan keyakinan
untuk berusaha memenuhi kebutuhan – kebutuhan sesuai dengan skala prioritas
berdasarkan atas sumber – sumber yang ada dalam masyarakat sendiri maupun yang
berasal dari luar dengan usaha secara gotong royong.
3. Terdapat
3 aspek yang terkandung di dalam pengertian pengorganisasian masyarakat yaitu :
a. Proses
b. Masyarakat
c. Fungsi
masyarakat
4. Aspek
Perencanaan meliputi :
a. Perencanaan
yang bersifat langsung
b. Perencanaan
yang bersifat tidak langsung
5. Peranan
petugas dalam pengorganisasian masyarakat:
a.
Petugas sebagai pembimbing (guide)
b.
Petugas sebagai enabler
c.
Petugas sebagai ahli (expert)
6.
Pendekatan yang dapat digunakan dalam
pengorganisasian masyarakat adalah :
a.
Spesific Content
Objective Approach
b.
General Content
Objective Approach
c.
Process Objective
Approach
7. Menurut
“Adi Sasongko ( 1978 )”, langkah – langkah yang harus ditempuh dalam
Pengorganisasian Masyarakat adalah :
1) Persiapan
sosial :
a. Pengenalan
Masyarakat
b. Pengenalan
Masalah
c. Penyadaran
Masyarakat
2) Pelaksanaan
3) Evaluasi
4) Perluasan
B.
SARAN
Dalam
menjalankan aktivitas pengorganisasian, prinsip yang harus dipegang dan
dijadikan pedoman dalam berpikir dan berbuat bagi seorang pengorganisasi
masyarakat adalah :
a.
Membangun
pertemanan/persahabatan dengan komunitas atau masyarakat.
b.
Bersedia belajar dari kehidupan
komunitas bersangkutan.
c.
Membangun komunitas atau masyarakat
dengan berangkat dari apa yang ada atau dimiliki oleh komunitas tersebut.
d.
Tidak
berpretensi untuk menjadi pemimpin dan "tetua" dari komunitas
tersebut.
e.
Mempercayai bahwa komunitas memiliki
potensi dan kemampuan untuk membangun dirinya sendiri hingga tuntas.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar