Minggu, 28 Maret 2010

Inilah Mawar Antariksa dari NASA



KOMPAS.com — Teleskop NASA memotret sebuah awan antariksa yang dipenuhi bintang-bintang baru yang ditaburi debu-debu ruang angkasa. Citra inframerah ini berasal dari kumpulan bintang baru yang dilabel Berkeley 59.

Tiap bintangnya "baru" beberapa juta tahun dan karena warna-warni merah dan hijaunya, para ilmuwan NASA menyamakannya dengan sebuah mawar kosmis.

Citra ini diambil oleh perangkat baru NASA, yaitu Penjelajah Survei Inframerah Berlingkup Lebar atau Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE). Pengamat antariksa ini bernilai 320 juta dollar AS dan dibangun untuk memetakan seluruh langit dengan mendetail. Teleskop ini juga telah memotret asteroid gelap dan komet yang sebelumnya susah ditangkap citranya.

Teleskop WISE milik NASA diperkirakan bisa menyelesaikan pemetaan langitnya dalam enam bulan lagi.

Kembali pada mawar kosmis itu, cahaya merah di tengahnya adalah akibat panas yang dipancarkan oleh bintang-bintang dalam awan itu. Daerah hijau zamrud di pinggirannya adalah molekul-molekul polycyclic aromatic hydrocarbon yang bisa ditemukan juga di Bumi, yaitu dari hasil pembakaran, contohnya dari pipa knalpot mobil atau bahkan di dasar panggangan barbeque.



Penulis: C17-09 | Editor: msh | Sumber :SPACE.COM

Sabtu, 27 Maret 2010

Inilah Warna Burung Berusia 155 Juta Tahun Itu



Kamis, 11 Maret 2010
Beijing Natural History Museum

BEIJING, KOMPAS.com — Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil memecahkan misteri warna tubuh binatang purba yang sudah menjadi fosil.

Para ilmuwan yang berasal dari Museum Sejarah Arkeologi Beijing ini berhasil memecahkan secara lengkap kode misteri warna tubuh burung purba yang dikenal dengan Archiornis huxleyi.

Archiornis huxleyi
yang hidup kira-kira 155 juta tahun lalu ini termasuk jenis dinosaurus purba, hewan sejenis burung buas dan berkaki kecil.

Untuk memecahkan misteri warna burung purba ini, para ilmuwan Beijing bekerja sama dengan ilmuwan ahli dinosaurus, ilmuwan ahli burung modern, dan ilmuwan ahli burung kuno yang berasal dari Peking University, Yale University, University of Texas, dan University of Akron.



Editor: bnj | Sumber : Xinhuanet.com
Dinosaurus, Kisah yang Belum Usai



Sabtu, 20 Maret 2010 | 06:34 WIB
JONAH CHOINIERE/PA WIRE

KOMPAS.com — Kisah tentang dinosaurus selalu menarik. Misteri yang menyelimutinya selalu menunggu untuk terus dan terus dikuak. Para ahli pun tak pernah kekurangan isu tentang hewan purba yang satu ini. Perdebatan ilmiah, pertanyaan ontologis, terus bergulir: apakah sebenarnya "dinosaurus" itu? Apakah benar dinosaurus itu termasuk jenis burung?

Mengaitkan dinosaurus dengan burung adalah perdebatan tak kunjung usai yang sudah dimulai sejak abad ke-19. Ketika itu, jejak kaki dinosaurus disalah tafsir sebagai jejak kaki burung (Glut, Dinosaurus-The Encyclopedia, 1997). Yang paling awal dianggap sebagai burung, yaitu genus Archaeopteryxyang memiliki bulu (feathers), tetapi juga gigi dan berbagai ciri-ciri reptil lainnya. Dia dinobatkan sebagai ”burung yang tak terbantahkan yang pertama” (Currie dan Zhao, 1993).

Spesimen fosil pertama spesies Archaeopteryx lithographica ditemukan pada 1860 di lapisan Solnhofen Limestone (lapisan zaman Upper Jurassic) di Franconia, Bavaria. Temuan tersebut menegaskan bahwa burung telah ada di zaman Jurassic—sekitar 210 juta tahun lalu dan berlangsung selama 70 juta tahun pada Zaman Mesozoic. Kata dinosaurus awalnya adalah dinosauria, hasil gabungan kata dari bahasa Yunani, deinos (mengerikan) dan sauros (kadal).

Kini, secara umum para ilmuwan telah mengakui bahwa burung merupakan keturunan dari dinosaurus melalui proses evolusi. Penemuan selama ini masih seperti di awal tulisan: hewannya berbentuk dinosaurus, tidak bisa terbang, tetapi memiliki bulu.

Tahun lalu, di Provinsi Liaoning, China, di sebuah lapisan lokasi fosil (fossil bed) yang terkenal, Dr Zheng Xiaoting Shandong Tianyu Museum of Nature di Pingyi. Zheng dan rekan-rekannya menyebut penemuannya sebagai Tianyulong Confuciusi yang akhirnya dimasukkan dalam kelompok Saurischia yang merupakan nenek moyang burung.

Bulu pada burung berfungsi sebagai penghangat dan juga berfungsi sebagai penangkap sinyal, sementara jika itu bukan bulu karena ada di dalam kulit, sebenarnya fungsinya apa?

Atas keyakinan bahwa burung adalah keturunan dinosaurus, penemuan di Liaoning tersebut lalu dimasukkan ke dalam kelompok tersebut. Jika struktur di punggung bisa disebut "bulu", hewan semacam Stegosaurus, Triceratops, dan Tyrannosaurus bisa disebut sebagai burung kelebihan bobot. Nah, ternyata misteri belum terpecahkan. (ISW, dari Berbagai Sumber)

Selengkapnya baca di http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/20/03364385/dinosaurus..kisah.yang.belum.usai



Editor: msh | Sumber : Kompas Ceta
Bedak Vagina Picu Kanker?


Kompas.com — Pemakaian bedak secara serampangan bisa berdampak buruk bagi bayi. Bahkan, para dokter tidak menganjurkan orangtua untuk memberikan bedak di organ vital anak perempuan karena bisa menyebabkan gangguan reproduksi saat masa dewasa, bahkan kanker.

Lalu, apa yang harus dilakukan apabila si kecil telanjur sering dipakaikan bedak di vagina? Menurut penjelasan dr Judi Januadi Endjun, SpOG, dari RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, kebiasaan memakaikan bedak di organ intim anak perempuan sebaiknya dihentikan.

Mulai sekarang, orangtua juga harus mengajari anak cara hidup yang sehat, misalnya makanan yang alamiah, halal dan bergizi, tidak kegemukan, tidak makan junk food dan kelak apabila sudah dewasa, jangan terlambat menikah, punya anak, dan menyusui hingga genap 25 bulan.

Selain itu, rajin-rajinlah memeriksakan diri ke dokter kandungan, terutama jika haidnya nyeri atau tidak teratur. Hindari juga makanan yang dibakar karena arangnya bisa memicu kanker saluran cerna.

Kenali juga faktor risiko dalam keluarga, misalnya ada keluarga dekat yang terkena tumor payudara, indung telur, rahim, atau saluran cerna. Namun, jangan terlalu stres memikirkannya, yang penting ke depannya kita perbaiki.

Editor: Anna | Sumber :Tabloid Nakita